![]() |
| Curug Sagarahiang |
DARMA (MASS) – Dahulu kala di jaman
kuno (Hindu-Budha) di Jawa Barat, tumbuh pemerintahan Kerajaan Sunda yang pusat
atau ibu kota kerajaannya pernah berpindah-pindah. Paling tidak diketahui
adanya empat buah ibu kota atau pusat kerajaan selama masa Kerajaan Sunda.
Keempat pusat kerajaan dimaksud adalah Galuh, Prahajyan Sunda, Kawali, dan
Pakwan Pajajaran.
Menurut
Kang Ukad atau biasa di sapa Tablo,
relawan pencita alam, pusat Kerajaan Sunda yang
berpindah-pindah itu pernah berlokasi secara kronologis yakni diantaranya
Galuh, Pakuan, Saunggalah, Pakuan, Kawali, dan Pakuan. Jadi Kerajaan Sunda itu
berakhir pada waktu pusat kerajaannya berkedudukan di Pakwan Padjajaran.
Disebutkan
dalam Naskah-naskah Wangsakerta yang sekarang ada di Saunggalah 3 (di Citameng)
“Eksistensi kerajaan Saunggalah dalam lingkungan kehidupan kerajaan-kerajaan
lainnya, khususnya di Jawa Barat seperti Kerajaan Galuh, Sunda, dan Galunggung.
Salah satu keterangan penting adalah diungkapkannya akhir kekuasaan kerajaan
Saunggalah dan kerajaan Galunggung, yang selanjutnya bersatu (digabungkan)
dengan kerajaan Galuh Pakuan (Ekadjati et.al, 1989: 60)”
![]() |
| Kang Tablo |
Terlepas
dari masalah benar atau tidaknya isi riwayat terhadap pemahaman situs sejarah
tersebut, sejarah kerajaan Saunggalah merupakan pemanfaatan cerita-cerita
tradisional yang berkaitan dengan adanya situs-situs sejarah di Kabupaten
Kuningan.
Adapun
situs sejarah terpenting yang berhubungan dengan eksistensi kerajaan Saunggalah
adalah situs sejarah yang terdapat di Bukit Sanghiang yakni di Desa
Sagarahiyang Kecamatan Darma Kuningan. Sebab di tempat tersebut, ditemukannya
benda-benda peninggalan arkeologi berupa Lingga
dan Arca Nandi serta papan-papan batu
yang diduga bekas reruntuhan bangunan candi yang berasal dari abad ke-7 atau
ke-8 Masehi.
Sementara
itu menurut Kepala Desa Sagarahiang Iman Budi Kortana, A.Md menyebutkan
penyebaran agama
Islam yang pertama di Kuningan
itu yakni dari Desa Sagarahiang yang kemudian menyebar ke Kelurahan Winduherang
Kecamatan Cigugur.
Hal
ini diperjelas dengan adanya arsip sejarah yang ada di Desa Sagarahiang itu
sendiri yang menceritakan
“Ditahun 1372 M masuklah agama Islam ke wilayah
Kerajaan Arile atau Saung Galah yang dibawa oleh :
1. Eyang
Syeikh Haji Maulana Akbar (Babakan Dayeuh)
2. Eyang
Syeikh Haji Abdus Salam (Babakan Dayeuh)
3. Eyang
Syeikh Haji Abdus Salim ( Babakan Dayeuh)
4. Syeikh
Mangundana (Muncangu Heuleut)
![]() |
| Gerbang menuju Bukit Lingga. (Argi Mochammad) |
Untuk merubah Ajaran Sanghiang Windu Darma
pada waktu itu menjadi Agama Islam, dan Agama Islam masuk ke 9 (Sembilan) Kabuyutan
yang sekarang dikenal sebagai :
1. Eyang
Syeikh Marmagati (Koncangan)
2. Kyai
Dugal (Citampian)
3. Buyut
Jago (Astana Tengah)
4. Langlang
Buana (Dangddeur)
5. Sanghiang
Sukma Dipucuk / Eyang Sangkuwukarees (Munjul Pasiripis)
6. Buyut
Lubang (Birit Desa)
7. Buyut
Brebes (Blok Dukuh)
8. Buyut
Indun (Astana Wetan)
9. Buyut
Bewos (Astana Kulon)
Eyang Syeikh Haji maulan Akbar dan 9 Kabuyutan
diatas mulai membangun roda Pemerintahan dan berdirilah sebuah Desa
yaitu Desa Sagarahiang. Makna nama Sagarahiang itu sendiri diambil dari
2 suku kata yaitu Sagara yang berarti Lautan, Sedangkan Hiang
yang berarti Leluhur/Dewa/Raja. Sagarahiang mempunyai arti Lautan
Leluhur/Dewa/Raja, dengan bukti banyaknya Situs-situs Purbakala,” (arsip Desa
Sagarahiang).
“Begitulah sejarahnya berdasarkan
arsip Desa Sagarahiang yang kami miliki. Arsip ini kita jaga sejak pemerintahan
Kuwu H Amin di masa perjuangan yang mana dengan bukti sejarah masuknya batalion
Umar Wirahadi Kusumah, Yogi SM, Abi Manyu dan Mas’ud Wisnu Saputra. Sampai 14
generasi kuwu,” ujarnya. (argi)




