![]() |
| Rudi Noor |
“Mak, aku akan menuruni bukit Halimun!”
“Jangan bodoh nak, itu bukan tindakan bijak. Orang
kampung akan menangkapmu. Di sini tak seperti di Plangon.”
Beberapa tahun yang lalu, Omaw dan Ose bermigrasi dari
plangon membawa Onye yang saat itu masih menyusu. Persediaan makanan di Plangon
mulai menipis. Namun, itu bukan satu-satunya alasan mengapa mereka bermigrasi. Omaw
memiliki prinsip hidup bahwa monyet adalah binatang liar, oleh karena itu monyet
harus mencari makan sendiri bukan malah meminta-minta pada manusia.
Kenyataan bahwa plangon telah menjadi tempat wisata
membuat Omaw semakin meneguhkan hati untuk bermigrasi. Dan pada suatu hari yang
telah ditetapkan dan melalui perhitungan jawa tepat malam Kamis Wage mereka
bermigrasi menuju Kuningan tepatnya bukit Halimun dekat perkampungan Salareuma.
Bermigrasi ketempat baru bukan perkara mudah. Selain harus
berdebat dengan kelompoknya dan hanya Ose dan anaknya lah yang akhirnya ikut
Omaw. Omaw pun harus berebut kekuasaan dengan binatang lain yang sudah lebih dulu
menguasai wilayah tersebut. Namun, tak ada suatu hal yang mampu mengalahan
keteguhan hati Omaw. Dan kini tinggalah mereka di bukit Halimun.
Bukit Halimun masih sangat asri. Meski sesungguhnya bukit
Halimun adalah lahan milik warga yang jarang terjaman. Bukit Halimun lebih
didominasi oleh pepohonan penghasil kayu, diantaranya Jati, Arbise, Mahoni, dan
beberapa pohon petai dan jambu serta pohon-pohon yang tumbuh liar dengan
sendirinya.
Di bukit Halimun Onye tumbuh menjadi monyet remaja. Dan
setelah Onye berumur dua tahun ia memiliki adik yang kemudian diberinama Omo.
Keluarga monyet tersebut hidup bahagia dan sejahtera. Omaw tak pernah merasa
kekurangan betina, apalagi kekurangan makanan. Hidup di hutan yang masih jarang
didatangi manusia adalah surga bagi mereka berempat.
Pada suatu hari Omaw mengajak Onye menuruni bukit
Halimun. Omaw hendak menunjukan pemukiman warga agar Onye menjadi lebih
hati-hati ketika menjumpai manusia. Kedua monyet tersebut melompat dari satu
pohon ke pohon lain dengan lincah. Dan pada tepian perkampungan mereka
berhenti. Tepat di pertigaan jalan kampung tersebut ada pertunjukan topeng
monyet.
“Pak kenapa monyet itu bertingkah seperti manusia?”
“Karena dia sudah diperbudak oleh manusia. Kamu jangan
sekali-kali menuruni bukit Halimun dan bertemu manusia.”
“Tapi monyet itu tidak apa-apa.”
“Kita berbeda nak. Kita adalah musuh bagi mereka,
sedangkan monyet itu adalah hiburan bagi mereka.”
Namun jawaban Omaw tak memuaskan Onye. Ia berpikir kenapa
keluarganya tidak bisa bersahabat dengan manusia. Malahan Omaw sering menyuruh
untuk memetik pisang di perkebunan milik warga tentu ketika situasi aman.
Tetapi bukankah itu akan membuat manusia benci kepada monyet? Namun, menurut Omaw
itu lah yang seharusnya. Monyet itu binatang liar.
Semakin diperhatikan semakin Onye sadar betapa cantiknya
monyet yang tengah mengenakan rok mini itu. Berlenggak-lenggok membawa
keranjang sayur. Atau sesekali memakai topeng bayi dan juga mengendarai motor.
Onye senyum-senyum sendiri memperhatikannya. Dari ingar-bingar suara musik dan
teriakan pawang, Onye tahu nama monyet betina itu adalah Sarimin.
Dada Onye berdebar kencang. Ia terus memperhatikan
Sarimin dari atas pohon mahoni. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, inikah
namanya jatuh cinta. Inikah namanya cinta seekor monyet. Namun, belum puas Onye
memperhatikan tingkah polah Sarimin, Omaw sudah menarik telinga Onye dan
mengajaknya pulang.
Sepanjang malam bayangan Sarimin tak juga sirna. Kedua
matanya tak bisa dipejamkan. Hatinya cemas dan terus bergemuruh. Jelas Onye
mencintai Sarimin. Cinta pada pandangan pertama.
Keesokan harinya dengan wajah letih Onye menghampiri
ibunya yang tengah menyusui Omo.
“Mak aku ingin kawin.”
“Kamu masih remaja nak, setidaknya tunggu dulu dua kali
musim panas lagi, baru umurmu cukup dewasa untuk kawin.”
“Tapi aku mencintai seekor monyet betina, mak.”
“Paling itu hanya cinta monyet, cinta remaja beberapa
hari lagi akan hilang. Eh, siapa yang kau cintai nak, bukankah di sini tidak
ada monyet selain kita berempat? Jangan bilang kau mencintai adikmu. Bulu
adikmu masih hitam, sadarlah nak.”
“Mak, aku mencintai Sarimin. Kemarin aku melihatnya di
pertigaan kampung, berlenggak-lenggok menari ditengah kerumunan manusia.”
“Apa... jangan gila nak. Dia bukan betina yang tepat
untuk kau cintai. Biar mak suruh bapakmu mencari betina remaja ke Plangon jika
memang bisa membuatmu hidup normal kembali.”
“Sudahlah mak.”
Kemelut dalam benak Onye benar-benar menjadi semakin
ruwet. Ia mencintai Sarimin. Seribu kali ia mencintai Sarimin. Tapi sepertinya
kedua orang tuanya tak menyetujui untuk mengawini Sarimin. Dan entah pula
Sarimin hendak berkawin dengan Onye atau tidak. Namun, melupakan Sarimin bukan
perkara mudah. Seolah Sarimin ada dibalik kelopak mata Onye, karena setiap kali
ia memejamkan mata, bayangan Sarimin berjelaga di hadapannya.
Onye benar-benar merasa gila. Kepalanya terasa hendak
pecah. Sarimin-sarimin kecil serupa burung pipit berputar-putar mengelilingi
kepalanya. Dan ketika akhirnya ia bisa tertidur karena sudah dua hari matanya
melek, ia memimpikan Sarimin. Onye menggenggam tangan Sarimin, melompat dari
satu pohon ke pohon lain bersama, memakan satu pisang berdua, dan main air di
sungai saling ciprat menciprat. Hingga saat Onye terbangun karena sudah siang,
ia tahu bahwa ia telah mimpi basah.
Beberapa kali Onye mencoba menuruni bukit Halimun namun
dengan cepat Omaw mengetahuinya lantas menarik telinganya kembali ke bukit.
Tetapi Onye benar-benar tidak bisa terus-terusan membiarkan
bayang-bayang Sarimin mengintainya. Dan terbesitlah ide untuk kabur dari bukit
Halimun untuk mencari Sarimin.
Saat pagi masih belum cukup terang, Onye dengan lompatan
yang amat hati-hati meninggalkan keluarganya menuruni bukit.
Kampung masing lengang. Warga masih sibuk di dapur dan
belum menunjukan batang hidung mereka. Onye tiba di pertigaan tempat ia melihat
Sarimin. Namun, Onye tidak tahu apakah Sarimin tinggal dekat pertigaan itu atau
kapan Onye bisa melihat Sarimin di pertigaan. Ia hanya memiliki tekad dan
keteguhan hati bahwa ia akan meilihat Sarimin di sana. Bukankah bapaknya juga
pernah berkata bahwa hanya keteguhan hati yang mampu mewujudkan keinginan yang
besar.
Semakin siang warga semakin ramai beraktifitas. Pertigaan
tempat Sarimin kemarin, dekat dengan sekolah dasar dan hari ini bukan hari
libur. Onye yang tidak terlalu akrab dengan manusia sedikit gentar. Namun, membayangkan
harus dihantui oleh bayang-bayang Sarimin membuat Onye tak mengurungkan niat.
Hari sudah siang dan Onye masih menunggu di atas pohon
mahoni memperhatikan pertigaan. Desakan untuk bertemu Sarimin semakin
memaksanya untuk menuruni pohon mahoni. Tak bisa tidak dan tak bisa lagi
ditunda-tunda.
Dengan langkah sedikit ragu Onye menuruni pohon mahoni
bermaksud untuk mencari tahu dimana Sarimin berada. Namun, tepat ketika ia
menginjakan kaki di tanah, seseorang berseru kencang.
“Monyet jadi-jadian...!”
Onye tersentak kaget ia benar-benar telah melalaikan
peringatan bapaknya untuk berhati-hati tehadap manusia. Onye dengan cepat
kemudian berlari menuju sekolah karena arah teriakan tersebut berasal dari
bawah bukit Halimun sehingga Onye tidak sempat untuk kembali ke bukit.
Prasangka bahwa Onye adalah monyet jadi-jadian membuat
orang-orang semakin banyak berdatangan untuk memburu Onye. Dari arah timur
sekolah beberapa orang lelaki dan anak-anak datang membawa beberapa kayu balok.
Dan dari arah barat orang-orang dewasa membawa beberapa jala ikan. Onye tak
bisa berpikir jernih ia hanya mengandalkan instingnya untuk melarikan diri.
Tepat disebelah kirinya ada ruang kelas terbuka Onye menyangka bahwa itu adalah
jalan keluarnya, sehingga tanpa berpikir panjang Onye melompat menuju pintu
ruang kelas yang terbuka itu.
Namun naas ruang kelas bukan arah pelarian yang tepat.
Semua jendela tertutup dan orang-orang mulai memblokade pintu, membuat Onye
tersudut. Dengan tatapan nanar Onye mulai pasrah ia tak tahu lagi apa yang
harus ia lakukan untuk menghadapi malapetaka tersebut.
“Lihat! Monyet jadi-jadian itu menangis. Jangan-jangan
dia adalah biangkerok yang membuat beberapa warga kehilangan uang dan
perhiasan.”
“Tangkap saja! Tangkap!”
Semua orang bersepakat dan berambisi untuk menangkap
Onye. Seorang lelaki yang membawa kandang besi panjang berusaha membelah
kerumunan orang-orang bersiap kalau-kalau si Onye sudah berhasil tertangkap.
Lelaki bertubuh gagah dan paling pemberani mencoba melemparkan
jala. Namun onye sempat menghindar. Saat kedua kalinya Onye berusaha menghindar
seorang lelaki dengan balok kayu memukul kepala Onye hingga terpental ketembok,
dan membuat Onye sidikit sempoyongan dengan kepala yang berdarah. Saat itulah
Onye dimasukan kedalam kandang besi. Kemudian mereka membawa Onye ke pos ronda
dekat pertigaan.
Dalam kandang besi yang kecil itu Onye menyesali
keputusannya untuk menuruni bukit Halimun. Ia sadar bahwa perkataan bapaknya
tak satupun yang salah atau berbohong apalagi menakut-nakuti.
Warga kampung perlahan mulai mengerumuni Onye. Mereka menuduh
Onye adalah monyet jadi-jadian yang selama ini mencuri uang dan perhiasan
mereka. Dan para warga yakin cepat atau lambat akan ada keluarga yang
memohon-mohon untuk melepaskan monyet jadi-jadian tersebut.
Onye semakin menyadari bahwa tak seharusnya manusia dan monyet
saling berhubungan apalagi saling menyakiti. Ia sadar bahwa tak jarang ia
mencuri pisang ataupun buah dikebun, namun ia tak pernah sekalipun menyakiti
manusia. Onye semakin larut dalam perenungan sembari menahan kepalanya yang
teramat sakit.
Dari kejauhan terdengar ingar-bingar lantunan musik yang
Onye kenali. Wajahnya yang semula mengkerut kini sedikit menjadi sumringah. Ia
tahu itu adalah Sarimin. Ia tak akan salah bahwa itu adalah Sarimin. Musik
semakin kencang dan Onye dengan refleks mendekatkan wajahnya ke jeruji besi.
Warga kampung yang tengah berkerumun semakin berasumsi bahwa si Onye adalah
manusia, ia adalah monyet jadi-jadian. Lihat saja prilakunya seperti manusia.
Musik semakin terdengar kencang. Dan ketika Sarimin
sampai pada kerumunan tersebut. perhatian warga beralih memperhatikan polah
Sarimin yang seperti manusia. Sangat menggemaskan.
Onye merasakan dadanya semakin sesak melihat Sarimin
begitu dekatnya. Dan ingar-bingar musik yang mengiringi Sarimin perlahan hilang
dari pendengaran Onye. Dan rupa Sarimin perlahan memudar. Onye tak bisa lagi
menahan rasa sakit dikepalanya.***
“Penulis
ripuh asal Salareuma”
Nama asli :
Nana Rudiana
Nama
pena : Rudi Noor
Alamat :
Ds. Salareuma Kec. Cipicung Kab. Kuningan
E-mail :
rudinoor16@gmail.com
No.hp :
085320129060


